Thursday, September 16, 2010
rain
and i love it
suddenly i miss my childhood time
home, families, friends
....
i love to play under the rain
ran, ran, and ran around
i take a piece of mud with my hand
then i threw it away
just laughed out loud
with siblings and friends
still raining ...
i ran in the middle of rice field
i sang a few songs that express my heart
then i shouted loudly
i know no one would hear it
because it was raining
i feel so free ...
i dreamed and talked about the future
one day at i'll come to the city of rain
and the time goes on ...
finally the time came
i came to the city of rain
it rained almost every day there
i love it anyway ...
i sat in my room
look at the points of rainwater dripping
and wet trees and grass
through the window
inhaling the smell of wet soil
while enjoying hot tea and favorite snacks
accompanied by the calm songs
time passed so fast...
then i left the city of rain
but i want to go back
and enjoy the rain there
it still raining..
and i feel so cold here
inside me...
Wednesday, September 15, 2010
hurt
beberapa hari yg lalu gw liburan. gw jalan2 sama beberapa teman semasa kuliah. menyenangkan rasanya bisa share tentang banyak hal dengan mereka. mendengar berbagai share tentang kehidupan masing-masing setelah bekerja. semuanya punya pergumulan sendiri-sendiri. kita juga mengenang masa-masa kuliah. ternyata masa kuliah emang nyenangin bgt. lalu kita makan-makan, jalan-jalan dan foto-foto.
namun di tengah-tengah itu semua pun ada sesuatu yang selalu melintas di dalam diri gw. ya, tentang dia. rasanya menyakitkan emang klo ngingat dia. bayangin aja, di tengah suasana menyenangkan begitu pun gw masih ngingat dia, apalagi klo sendirian di luar kota begini.
gw jadi keinget pernah dengar ato baca kutipan berikut:
rasanya gw hampir gila gara-gara ini semua. gw harus bertahan untuk tidak menemuinya di tengah serbuan rasa kangen yg teramat sangat. bukan hanya itu, gw juga harus kuat untuk tidak membalas semua pesan singkat yg dikirim ke ponsel gw, berikut tidak mengangkat telpon ketika namanya muncul di ID caller, dan mengabaikannya ketika kami bertemu di dunia maya. aaaarrrrgggghhh.. what a terrible thing!! dan gw merasa sangat bodoh ketika gw berharap agar dia tak perlu menghubungi gw lagi, tapi setiap ponsel gw berbunyi gw berharap itu dari dia. gw harap lo ngga perlu ngerasain semua itu.
semoga gw bisa bertahan. karena gw pikir ini yg terbaik. semua pilihan emang ada konsekuensinya, dan rasanya gw lebih kuat menanggung konsekuensi ini dari pada gw memilih untuk bersamanya dan menanggung sesuatu yg buruk, bahkan mungkin yg terburuk.
stay strong and keep smiling Sonti. God is be with u.
Tuesday, September 14, 2010
jam kehidupan
dan tak seorangpun tau kapan kan berhenti
mungkin hari ini mungkin esok mungkin nanti
cepat atau lambat
tak seorang tau bila waktunya
jam kehidupan diputar sekali
dan tak seorangpun tau kapan 'kan berhenti
sadarilah kawan hidup ini tak berulang
sekarang waktunya yang kau miliki
sekarang waktunya
jangan kau andalkan hari esok, sekaranglah waktunya
kar'na tiap saat mungkin saja, jarum jam itu akan berhenti
Monday, August 30, 2010
Jumat, 20 November 2009
Waktu berlalu, satu per satu orang datang ke tempat itu. Aku pun dipersilakan naik ke lantai 3. Ternyata di sana semua orang sudah berkumpul. Aku tak sadar telah melewatimu yang berdiri di dekat tangga, dan aku berdiri di depanmu. Saat pertemuan itu hampir selesai, aku diminta untuk memperkenalkan diri. Suasana menjadi agak riuh. Wajar menurutku, di sana ada puluhan pria dan hanya ada 5 orang wanita, termasuk aku. Aku pun memperkenalkan diri dengan disambut pernyataan dan pertanyaan yang tidak jelas aku dengar dari pria-pria itu. Lalu namamu disebut oleh si bos. Dan suasana kembali riuh dengan siulan orang-orang itu sambil menyebut-nyebut namamu. Aku memalingkan wajahku ke belakang ke arah kamu berdiri dan aku melihat wajahmu di sana. Aku hanya diam dan tersenyum, aku menganggap itu hanya bercanda. Kamu pun hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Kemudian aku dipersilakan untuk mengikutimu karena kita memang bekerja di bagian yang sama. Sesaat setelah pertemuan itu selesai, kamu memanggil aku dan mengajakku turun menuju lantai 2, dan mempersilakan aku duduk di kursi tepat di sebelah meja kerjamu. Itulah pertama kali aku berkenalan denganmu dan berbicara denganmu.
Saturday, August 28, 2010
Yang Aku Renungkan
Orang-orang terdekatku mungkin tahu kalau belakangan ini aku sering merasa kesepian, bosan, sedih, takut, khawatir, marah dan kecewa.
Ya, inilah ungkapan perasaan hatiku. Aku begitu lelah. Aku merasa telah berjalan entah kemana. Emosiku tak terkendali. Saat ini aku hanya ingin mengucap syukur kepada Tuhan. Sungguh tak terhitung berkat-Nya dalam hidupku. Hanya aku yang terlalu banyak menuntut, sehingga aku lupa bersyukur. Malah aku begitu banyak berbuat salah, dan dengan bodohnya aku malah merasa sok benar. Memang begitulah sebuah kesalahan ketika kita perbuat, kita merasa benar. Syukur dan ampun, kedua kata ini yang banyak aku ucapkan pada Tuhan atas banyak hal yang telah terjadi dalam hidupku selama ini. Melalui perjalanan yang penuh dengan kesendirian ini, membuat aku banyak merenung. Betapa dosaku di hadapan Tuhan dan betapa luar biasa kasih-Nya dalam hidupku.
Aku ingat, di catatan pembuka skripsiku, aku menulis lirik sebuah lagu yang aku suka, aku hanya menulis bait reff saja. Begini lirik lagu itu:
Hatiku tetap, tetap menyembah-Mu
Dunia tak bisa menjauhkan ‘ku dari kasih-Mu
S’lama ‘ku hidup, ‘ku hidup bagi-Mu
Mataku tetap, tetap memandang-Mu
Dunia tak bisa menjauhkan ‘ku dari kasih-Mu”
Aku merasa semua yang aku alami selama ini telah membuat aku menjauh dari Tuhan. Entah mengapa aku merasa terlalu berharap pada dunia ini, pada manusia, semuanya membuat aku perlahan-lahan menjauh dari Tuhan. Aku tak mengerti dengan semua pergumulanku ini. Aku malah menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan waktu, dan mungkin menyalahkan Tuhan. Hingga aku hanya bisa terdiam dan menangis ketika semuanya menghilang dan aku merasa ternyata hanya Dia yang selalu setia menemaniku melewati semua itu.
Manusia tetaplah manusia, tidak sempurna. Jangan berharap pada manusia, pada dunia ini. Karena semuanya fana. Hanya Tuhan yang abadi, yang penuh kasih, yang sanggup menolong. Dia tak pernah meninggalkan aku sendirian. Jadi berharaplah hanya kepada Tuhan, maka Ia akan memberikan kekuatan yang baru. Jangan menyerah terhadap semua pergumulan hidup, tapi berserahlah pada-Nya, serahkan semuanya kepada Tuhan, karena hanya Dia yang sanggup menolong.
Wednesday, August 25, 2010
maksudnya ??
Saya baru saja membaca sebuah blog. Isinya tak perlu saya ungkapkan di sini, yang pasti saya agak tersinggung sekaligus tersindir dengan isinya (atau saya saja yang terlalu sensitif atau perasa). Entahlah.
Isi blog itu mengingatkan saya pada sesuatu hal. Satu hal yang pernah membuat saya kecewa dan sakit hati. Lalu mengapa saya tidak melaporkan isi blog itu saja? Sepertinya tidak perlu sereaktif itu.
Karena kemudian saya menjadi berandai-andai. Andai saja bisa seperti ini dan seperti itu. Andai saja tak perlu seperti ini dan seperti itu. Ya, mengandaikan tampaknya indah sekali. Tetapi kenyataan yang harus benar-benar saya dan Anda hadapi di setiap detak waktu yang berlalu.
Monday, August 23, 2010
Untukmu
Sendiri. Aku jadi banyak memikirkanmu. Rasanya berat membiasakan diri jika tanpamu. Aku telah terbiasa denganmu. Rasanya seperti tak punya pegangan. Aku jadi banyak bingung, tak tahu ingin bertanya pada siapa tentang banyak hal yang ada di depan mataku saat ini.
Serba salah aku melalui waktu di tempat yang sejauh ini darimu. Aku berharap kamu menghubungiku. Tapi aku malah tak tahu akan berkata apa ketika akhirnya kamu benar-benar menghubungiku. Rasanya aku menjadi begitu bodoh dan gila.
Ingin menghapus bayanganmu, tapi rasanya itu sulit. Terlalu banyak kenangan tentang kita yang terukir dalam hatiku. Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa benar-benar mengalihkan perhatianku dari segala pikiran dan perasaan tentangmu?
Entah sudah berapa lama aku menahan semua ini. Apakah aku masih kuat? Entahlah. Aku belum siap jika harus benar-benar berpisah denganmu.
Aku masih ingat semua pembicaraan yang pernah kita lakukan. Tampaknya aku terlalu banyak berbicara tentang diriku sendiri, sehingga aku hampir-hampir tak banyak tahu tentang siapa kamu.
Andai saja kamu tahu kenapa aku melakukan itu. Aku hanya tak ingin kamu tahu lebih banyak apa yang sebenarnya yang aku rasakan padamu. Aku ingin kamu tahu bagaimana aku harus bersikap tentang semua perasaan ini. Mungkin itu prinsipku.
Aku tak ingin kamu mengucapkan kata-kata itu lagi. Andai saja kamu benar-benar mengerti betapa perihnya hati ini ketika kau mengucapkan semua itu.
Aku sungguh tak ingin menyakiti siapa pun. Maaf jika kau terluka karena semua yang aku lakukan. Aku hanya ingin yang terbaik. Aku sungguh tak kuasa atas apa yang terjadi di antara kita. Mungkin suatu hari nanti kau mengerti dan bisa menghancurkan semuanya. Apakah aku masih boleh meyakini suatu saat nanti semua angan ini bisa terwujud? Entahlah.