Setahun bekerja di kantor yang sekarang membuatku cukup sering melakukan perjalanan dinas ke beberapa daerah di Indonesia. Sedikit meringkas, perjalananku yang pertama adalah ke Berau (Kalimantan Timur), yang kedua ke Makassar (Sulawesi Selatan), yang ketiga ke Bengkulu (Sumatera), yang keempat ke Jogjakarta (Jawa) dan yang kelima ke Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Sebagai seorang yang suka jalan-jalan, aku sangat menikmati segala kesempatan perjalanan ke luar kota tersebut. Senang rasanya bisa melihat banyak tempat baru. Apalagi kalau dipikir-pikir aku sudah mendatangi hampir semua pulau besar di Indonesia. Lumayanlah, sejauh ini aku sudah menjejakkan kaki di 14 provinsi di Indonesia, serasa udah sedikit keliling Indonesia. Yah, walaupun belum mencapai Indonesia Timur, tapi tak mengapa.
Apa yang aku rasakan setiap aku melakukan perjalanan itu? Seperti yang udah berkali-kali aku tulis, aku sangat senang dan aku sangat menikmatinya. Aku senang ketika aku mengemasi barang bawaan ke dalam tas, aku senang ketika aku tiba di airport, aku senang ketika aku tiba di airport yang belum pernah aku datangi, aku senang melihat suasana asing sebuah kota, aku senang ketika aku memperhatikan kebiasaan warga lokal, aku senang melihat ciri khas setiap kota, aku senang ketika mengetahui masakan lokal, aku senang mendengar logat atau dialek lokal, aku senang mengunjungi toko-toko yang menjual buah tangan, dan yang paling membuat aku senang adalah, aku bisa melihat pantai dan menikmati matahari tenggelam dari sudut yang berbeda di Indonesia.
Pada akhirnya semua perjalanan itu membuatku semakin cinta dengan Tanah Airku, Indonesia. Yah, negeri ini cantiknya sungguhan! Setiap tiba di bagian lain di Indonesia, aku sering kali bengong dan berkata dalam hati, "Wow! Tuhan, ini cantik sekali!" Di balik segala kelakuan busuk politisi dan carut marut politik Indonesia yang sangat tidak aku sukai, sungguh aku mencintai Indonesia dengan segala keindahan alam dan keberagaman budayanya. Dan inilah salah satu alasan, kenapa aku belum mau membuat paspor dan menolak ajakan untuk berjalan-jalan ke luar negeri.
Terima kasih Tuhan, aku dilahirkan di negeri yang indah ini, Indonesia! Semoga Tuhan juga akan memberikan kedamaian dan ketenteraman di Indonesia
Tuesday, June 4, 2013
Sunday, May 12, 2013
Mamaku, Perawat Terhebatku
Hari ini, 12 Mei diperingati sebagai Hari Ibu Internasional dan Hari Perawat Internasional. Yang aku pikirkan adalah mamaku. Ya, mamaku seorang perawat. Bagiku, mama adalah perawat terbaik. Sejak kecil, jika aku sakit, aku tak pernah pergi berobat ke dokter atau RS, karena mama bisa merawatku dengan baik di rumah hingga aku benar-benar pulih. Kalaupun aku ke dokter di RS itu hanya minta rujukan untuk keperluan radiologi dan untuk mendapatkan resep beberapa obat yang hanya bisa didapatkan melalui resep dokter.
Sejak aku tinggal terpisah dari mama, jika aku sakit, aku sering ragu-ragu untuk bertanya pada mama soal sakit yang aku rasakan, karena aku tak mau mama khawatir jika dia tahu aku sedang sakit. Tapi dengan menghubungi mama justru aku jadi sembuh lebih cepat. Karena mama bisa menganalisa sakitku dari jauh, dan memberi saran yang baik agar aku merasa lebih baik. Saran soal makanan, memilih dokter dan membeli obat. Ketika membeli obat pun aku selalu berbicara dengan mama, karena mama tahu betul obat mana yang perlu aku minum, yang mana yang tidak perlu.
Mama juga sangat memperhatikan gizi kami, ketiga anaknya. Setiap pagi ketika akan berangkat ke sekolah mama selalu mewajibkan kami untuk sarapan dan minum susu segar yang telah dicampur telur ayam kampung. Sepulang sekolah, mama menyambut kami dengan makanan untuk santap siang. Lalu setelah tidur siang mama sudah menyiapkan makanan riang untuk kudapan sore seperti bubur kacang hijau, jeli, jagung rebus atau kue-kue basah buatan sendiri. Mama juga selalu menyediakan berbagai buah-buahan segar dan jus buah buatan mama di kulkas, sehingga kami tak perlu jajan sembarangan. Jika ada les tambahan setelah sekolah, biasanya mama juga menyiapkan bekal makan siang kami.
Hingga saat ini mama tak pernah lupa memperhatijan makananku, walaupun aku tinggal jauh darinya. Dia selalu menanyakan apakah aku sudah makan, apa yang aku makan, apakah aku sudah minum susu & makan buah, apakah aku sudah cukup beristirahat & apakah kamarku sudah dibersihkan.
Begitulah, kadang aky merasa kalau mama lebih tahu badanku daripada aku sendiri. Karena dia mamaku, yang mengandungku, melahirkanku & membesarkanku, hingga aku bisa jadi seperti saat ini. Terima kasih mama. Aku sayang mama!
Sejak aku tinggal terpisah dari mama, jika aku sakit, aku sering ragu-ragu untuk bertanya pada mama soal sakit yang aku rasakan, karena aku tak mau mama khawatir jika dia tahu aku sedang sakit. Tapi dengan menghubungi mama justru aku jadi sembuh lebih cepat. Karena mama bisa menganalisa sakitku dari jauh, dan memberi saran yang baik agar aku merasa lebih baik. Saran soal makanan, memilih dokter dan membeli obat. Ketika membeli obat pun aku selalu berbicara dengan mama, karena mama tahu betul obat mana yang perlu aku minum, yang mana yang tidak perlu.
Mama juga sangat memperhatikan gizi kami, ketiga anaknya. Setiap pagi ketika akan berangkat ke sekolah mama selalu mewajibkan kami untuk sarapan dan minum susu segar yang telah dicampur telur ayam kampung. Sepulang sekolah, mama menyambut kami dengan makanan untuk santap siang. Lalu setelah tidur siang mama sudah menyiapkan makanan riang untuk kudapan sore seperti bubur kacang hijau, jeli, jagung rebus atau kue-kue basah buatan sendiri. Mama juga selalu menyediakan berbagai buah-buahan segar dan jus buah buatan mama di kulkas, sehingga kami tak perlu jajan sembarangan. Jika ada les tambahan setelah sekolah, biasanya mama juga menyiapkan bekal makan siang kami.
Hingga saat ini mama tak pernah lupa memperhatijan makananku, walaupun aku tinggal jauh darinya. Dia selalu menanyakan apakah aku sudah makan, apa yang aku makan, apakah aku sudah minum susu & makan buah, apakah aku sudah cukup beristirahat & apakah kamarku sudah dibersihkan.
Begitulah, kadang aky merasa kalau mama lebih tahu badanku daripada aku sendiri. Karena dia mamaku, yang mengandungku, melahirkanku & membesarkanku, hingga aku bisa jadi seperti saat ini. Terima kasih mama. Aku sayang mama!
Tuesday, April 30, 2013
Setahun Duduk Di Samping 'Si Tengil'
Namanya Rida Akzar. Aku berkenalan dengannya setahun yang lalu, di
minggu ketiga bulan April 2012. Saat itu hari pertama dia bekerja di
kantor itu dan aku baru 3 minggu bekerja di situ. Kami berada di
departemen yang sama, dan dia diberi tempat duduk di sampingku. Posisi
meja kerja kami tidak nyaman, karena berada di dekat pintu masuk, jadi
semua orang yang keluar-masuk kantor pasti melewati meja kami.
Aku sangat senang saat dia masuk ke departemenku, karena aku jadi punya teman sesama anak baru yang harus belajar banyak, dan aku punya teman di meja kerja yang posisinya tidak strategis itu. Selain itu ternyata kami satu almamater, sama-sama lulus dari program studi & fakultas yang sama di kampus. Hanya kami berbeda angkatan 4 tahun, dia mulai kuliah saat aku baru saja menyandang gelar sarjana, makanya kami tak pernah bertemu & berkenalan ketika masih di kampus.
Di awal masa bekerja di kantor itu bukanlah hal yang mudah buatku, tapi aku senang karena ada Rida yang menemaniku melaluinya. Ketika itu kami harus sama-sama belajar hal-hal yang sama sekali baru & tidak kami mengerti dengan cepat. Dia cukup banyak membantuku, karena dia tidak pelit untuk berbagi hal-hal yang telah dia mengerti.
Rida seorang
pria asal Makassar yang plegmatis. Dia sering berekspresi sangat datar
terhadap banyak hal yang terjadi di sekitar kami. Dia anak yang pintar,
lulus dengan predikat cum laude sebagai lulusan terbaik dari program
studi kami saat wisudanya. Di kantor pun dia cepat belajar banyak hal
soal pekerjaan kami. Selain itu, dia juga seorang yang tekun &
disiplin. Sejak awal dia sangat ingin melanjutkan studinya ke jenjang
S2, dan dia berusaha mengejar mimpinya itu.
Di minggu pertama bulan Desember 2012 terjadi perombakan layout meja kerja di kantor. Jadi kami pindah lantai, sehingga kami bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Dan aku tetap untuk memilih duduk di samping Rida, walaupun aku bisa memilih untuk duduk di dekat teman lain yang lebih senior yang bisa sering-sering aku dekati untuk bertanya soal pekerjaan. Entahlah, aku hanya merasa nyaman jika duduk di sampingnya.
Hari ini, hari terakhir Rida bekerja di kantor ini. Dia berencana untuk fokus dalam persiapan kuliahnya, karena dia ingin kuliah di luar negeri, jadi dia memilih mengundurkan diri. Aku sedih, tak akan ada lagi dia yang duduk di sampingku. Dia tempat curhat yang lucu, rekan kerja yang baik, adik kelas yang pintar, berpikiran terbuka & menyenangkan. Dia sangat bersemangat untuk mempelajari hal baru.
Karena dia lebih muda 4 tahun dariku, aku sering menyebutnya sebagai berondongku. Ada 2 hal yang tidak akan aku lupakan dari seorang Rida. Yang pertama kejadian ketika aku pingsan di kantor saat aku duduk di sampingnya. Ketika orang lain di ruangan itu kaget karena mendengar suaraku terjatuh & dengan bingung mendatangiku, dia hanya bereaksi datar, dia tetap duduk di kursinya, melihat ke arahku & dengan datar berkata: "yah, jatuh.." Yah, itu karena dia seorang plegmatis. Namun setelah itu dia yang menyuapkan sebatang coklat ke mulutku dan memegangi gelas berisi air putih untuk aku minum setelah aku siuman.
Yang kedua, saat-saat dia membantuku & dengan peduli sering bertanya tentang progres pengerjaan proyekku. Benar-benar tak ternilai perhatiannya & semangat yang dia berikan padaku setiap hari.
Aku pasti akan merindukan suara khasnya ketika tertawa, ekspresinya ketika dia begitu bersemangat akan sesuatu, caranya berbicara yang tenang & jelas ketika menjelaskan sesuatu, kekusutannya wajahnya ketika dia suntuk & mencari-cari kotak permen di mejaku, lirikan matanya & cara dia memainkan kedua ujung jari telunjuknya untuk menggodaiku, semua kejahilannya, tanda tangannya yang unik, suaranya yang sangat datar di semua lagu selama karaoke serta gaya kidalnya saat bermain tenis.
Semoga sukses meraih mimpimu adikku sayang. Terima kasih telah menjadi adik, sahabat & partner yang menyenangkan selama setahun terakhir. Tetap jadi Rida yang baik, disiplin, rajin beribadah & rendah hati seperti yang aku kenal selama setahun ini. Sampai bertemu di kesempatan yang lebih berbahagia.
Aku sangat senang saat dia masuk ke departemenku, karena aku jadi punya teman sesama anak baru yang harus belajar banyak, dan aku punya teman di meja kerja yang posisinya tidak strategis itu. Selain itu ternyata kami satu almamater, sama-sama lulus dari program studi & fakultas yang sama di kampus. Hanya kami berbeda angkatan 4 tahun, dia mulai kuliah saat aku baru saja menyandang gelar sarjana, makanya kami tak pernah bertemu & berkenalan ketika masih di kampus.
Di awal masa bekerja di kantor itu bukanlah hal yang mudah buatku, tapi aku senang karena ada Rida yang menemaniku melaluinya. Ketika itu kami harus sama-sama belajar hal-hal yang sama sekali baru & tidak kami mengerti dengan cepat. Dia cukup banyak membantuku, karena dia tidak pelit untuk berbagi hal-hal yang telah dia mengerti.
Rida seorang
pria asal Makassar yang plegmatis. Dia sering berekspresi sangat datar
terhadap banyak hal yang terjadi di sekitar kami. Dia anak yang pintar,
lulus dengan predikat cum laude sebagai lulusan terbaik dari program
studi kami saat wisudanya. Di kantor pun dia cepat belajar banyak hal
soal pekerjaan kami. Selain itu, dia juga seorang yang tekun &
disiplin. Sejak awal dia sangat ingin melanjutkan studinya ke jenjang
S2, dan dia berusaha mengejar mimpinya itu.Di minggu pertama bulan Desember 2012 terjadi perombakan layout meja kerja di kantor. Jadi kami pindah lantai, sehingga kami bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Dan aku tetap untuk memilih duduk di samping Rida, walaupun aku bisa memilih untuk duduk di dekat teman lain yang lebih senior yang bisa sering-sering aku dekati untuk bertanya soal pekerjaan. Entahlah, aku hanya merasa nyaman jika duduk di sampingnya.
Hari ini, hari terakhir Rida bekerja di kantor ini. Dia berencana untuk fokus dalam persiapan kuliahnya, karena dia ingin kuliah di luar negeri, jadi dia memilih mengundurkan diri. Aku sedih, tak akan ada lagi dia yang duduk di sampingku. Dia tempat curhat yang lucu, rekan kerja yang baik, adik kelas yang pintar, berpikiran terbuka & menyenangkan. Dia sangat bersemangat untuk mempelajari hal baru.
Karena dia lebih muda 4 tahun dariku, aku sering menyebutnya sebagai berondongku. Ada 2 hal yang tidak akan aku lupakan dari seorang Rida. Yang pertama kejadian ketika aku pingsan di kantor saat aku duduk di sampingnya. Ketika orang lain di ruangan itu kaget karena mendengar suaraku terjatuh & dengan bingung mendatangiku, dia hanya bereaksi datar, dia tetap duduk di kursinya, melihat ke arahku & dengan datar berkata: "yah, jatuh.." Yah, itu karena dia seorang plegmatis. Namun setelah itu dia yang menyuapkan sebatang coklat ke mulutku dan memegangi gelas berisi air putih untuk aku minum setelah aku siuman.
Yang kedua, saat-saat dia membantuku & dengan peduli sering bertanya tentang progres pengerjaan proyekku. Benar-benar tak ternilai perhatiannya & semangat yang dia berikan padaku setiap hari.
Aku pasti akan merindukan suara khasnya ketika tertawa, ekspresinya ketika dia begitu bersemangat akan sesuatu, caranya berbicara yang tenang & jelas ketika menjelaskan sesuatu, kekusutannya wajahnya ketika dia suntuk & mencari-cari kotak permen di mejaku, lirikan matanya & cara dia memainkan kedua ujung jari telunjuknya untuk menggodaiku, semua kejahilannya, tanda tangannya yang unik, suaranya yang sangat datar di semua lagu selama karaoke serta gaya kidalnya saat bermain tenis.
Semoga sukses meraih mimpimu adikku sayang. Terima kasih telah menjadi adik, sahabat & partner yang menyenangkan selama setahun terakhir. Tetap jadi Rida yang baik, disiplin, rajin beribadah & rendah hati seperti yang aku kenal selama setahun ini. Sampai bertemu di kesempatan yang lebih berbahagia.
Sunday, April 21, 2013
Aku Kartini
Di Hari Kartini ini, aku mau cerita soal pekerjaanku sehari-hari aja. Apa hubungannya? Kan, Ibu Kartini itu dulu berjuang untuk emansipasi wanita. Supaya perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang layak, dan mendapatkan hak lain yang selayaknya didapatkan oleh semua orang secara setara. Apalagi dalam budaya patrilineal, laki-laki dianggap lebih diutamakan untuk mendapatkan pendidikan. Namun oleh perjuangan Ibu Kartini, maka sekarang banyak wanita yang dapat berpendidikan tinggi, dan sebagian wanita dapat bekerja di 'ladang' para pria.
Jadi, aku itu satu-satunya wanita di unit kerjaku. Sejak lulus kuliah hingga saat ini aku memang bekerja di posisi yang sama. Untuk posisi ini, sebenarnya ada cukup banyak wanita, tapi tergantung produk yang ditangani.
Dulu di kantorku yang sebelum ini, ada beberapa wanita yang menduduki posisi ini, tapi memang sangat sedikit dibanding porsi pria. Itu pun wanita mengisi posisi tersebut baru dimulai sejak 3 tahun terakhir. Jadi aku sempat mengalami dalam 1 tim sebagai satu-satunya wanita, bukan hanya di cabang dimana aku ditempatkan, bahkan di regional, aku satu-satunya wanita. Kemudian seiring berkembangnya organisasi, ada posisi di bawah supervisiku yang ditambah untuk membantu pekerjaanku, dan untuk posisi itu perusahaan cenderung memilih wanita. Sedangkan untuk posisiku perusahaan masih cenderung memilih pria. Alasannya cukup masuk di akal, karena pekerjaanku menuntutku untuk kunjungan ke lapangan, jadi butuh fisik yang kuat. Tapi kalau hanya kunjungan singkat di dalam kota yang dilakukan sesekali menurutku wanita cukup kuat.Lalu di kantorku saat ini, aku kembali merasakan sebagai satu-satunya wanita. Memang untuk di perusahaan ini pria dianggap lebih cocok, karena alasan survey ke customer tersebut, surveynya bukan di dalam kota, namun ke luar kota sampai masuk ke pedalaman. Dan aku pun harus mengalami itu, aku pergi ke pelosok dengan pesawat kecil, menyebrang sungai dengan speed boat kecil.
Di sini saya harus bisa mengimbangi cara kerja para pria itu yang fisiknya tentu lebih kuat. Dan atasan saya tidak membedakan saya karena saya seorang wanita. Maka saya harus bisa seperti pria-pria itu. Hal lain yang merepotkan adalah, saya akan lebih ribet kalau harus dinas keluar kota, karena bawaan saya lebih banyak sebagai wanita, jadi saya juga harus belajar untuk bepergian dengan praktis seperti mereka.
Yah, begitulah suka duka saya yang bekerja sebagai satu-satunya wanita di antara 11 pria di kantor. Selamat Hari Kartini, jadilah wanita Indonesia yang tangguh!
Saturday, March 30, 2013
Pemandangan favorit
Apa pemandangan favorit anda di seluruh dunia? Pemandangan ini bisa apa
saja, mungkin mimpi indah anda, acara televisi, peristiwa unik,
pemandangan alam, atau mungkin hal-hal yang biasa. Jika ditanyakan pada
saya, maka saya memiliki 3 pemandangan favorit.
Pemandangan favorit saya yang pertama adalah pantai. Seperti yang sudah saya tulis entah berapa kali, saya memang penikmat pemandangan pantai. Saya sangat menikmati saat berada di pantai, entah itu sekedar duduk melihat pemandangan alam, berjalan-jalan di antara pasir dan air, mencari cangkang kerang, atau foto-foto. Walaupun kulitku menjadi lebih gelap karena terbakar matahari dan lengket karena air asin, saya tidak terlalu peduli. Menyenangkan sekali rasanya, saya bisa bermain-main di tepi pantai, menikmati perjumpaan daratan dengan lautan, dan melihat 'garis tipis' pemisah langit dengan air di kejauhan.
Pemandangan favorit saya yang kedua adalah pemandangan matahari terbit di antara petak-petak sawah yang luas. Dulu sekali waktu saya masih duduk di bangku SD hingga SMP di sekitar rumah saya ada hamparan petak-petak sawah yang cukup luas. Jadi jika saya bisa bangun cukup pagi, maka saya akan bisa menikmati keluarnya matahari di antara petak-petak sawah itu. Sayangnya ketika saya masuk SMU sedikit demi sedikit lahan persawahan itu dibeli oleh beberapa pengembang properti untuk membangun perumahan. Jadi saya tak bisa lagi menikmati pemandangan itu. Pemandangan matahari terbit di persawahan favorit saya adalah ketika saya berada di Pulau Samosir. Rumah nenek saya ada di sana, letaknya jauh sekali dari jalan utama, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda motor yang jarang sekali ada atau berjalan kaki selama 2 jam! Dan saya lebih sering berjalan kaki ke sana. Dulu saya selalu mengeluh tentang jauhnya jarak ke rumah nenek, karena jalan kaki itu melelahkan sekali. Tapi saya ingat suatu pagi saya berjalan kaki menuju rumah nenek bersama keluarga saya yang lain. Pemandangan di sepanjang perjalanan tersebut adalah beberapa lokasi perkampungan warga, kebun-kebun dan petak-petak sawah yang sangat luas. Matahari terbit mengiringi langkah kami pagi itu, dan saat itu saya melihat matahari terbit di antara hamparan petak-petak sawah. Buat saya, pemandangan itu indah sekali, tak terlupakan.
Kedengarannya
seperti kejadian biasa, tapi buat saya itu hal yang menyenangkan. Saya
berjalan di antara petak-petak sawah itu dengan tetesan embun di ujung
daun tanaman di sekitar saya, menikmati udara sejuk yang perlahan
menghangat dengan kemunculan mentari yang naik perlahan, melihat langit
yang juga perlahan menjadi lebih terang. Ah, segar rasanya!
Waktu saya berkerja di Tegal & Semarang, jika saya ingin ke atau dari Jakarta & memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan kereta api, maka saya akan lebih suka memilih jadwal kereta yang cukup pagi. Tujuannya hanya agar menikmati indahnya pemandangan matahari terbit di antara petak-petak sawah yang saya lalui selama perjalanan.
Dan
pemandangan favorit saya yang ketiga adalah melihat seorang ayah
menggandeng putri kecilnya. Entahlah, sejak ayah saya tiada saya selalu
senang melihat pemandangan seperti ini. Dulu waktu ayah saya masih
hidup, saya sangat senang sekali berjalan-jalan bersama ayah saya, dan
dia selalu memegang tangan saya. Waktu itu saya tidak suka jika tangan
saya terus-terusan dipegang ayah, karena saya tidak bisa bebas berjalan
atau berlari ke mana pun saya mau. Kecuali jika saya berada di tempat
baru atau tempat yang sangat ramai, maka saya yang akan merangkul erat
tangan ayah saya. Dan yang dilakukan ayah saya adalah merangkul badan
kecil saya. Belakangan saya baru menyadari, ayah melakukan itu untuk
menjaga putri kecilnya yang suka terlalu lincah bergerak.
Jadi, apa pemandangan favorit Anda?
Pemandangan favorit saya yang pertama adalah pantai. Seperti yang sudah saya tulis entah berapa kali, saya memang penikmat pemandangan pantai. Saya sangat menikmati saat berada di pantai, entah itu sekedar duduk melihat pemandangan alam, berjalan-jalan di antara pasir dan air, mencari cangkang kerang, atau foto-foto. Walaupun kulitku menjadi lebih gelap karena terbakar matahari dan lengket karena air asin, saya tidak terlalu peduli. Menyenangkan sekali rasanya, saya bisa bermain-main di tepi pantai, menikmati perjumpaan daratan dengan lautan, dan melihat 'garis tipis' pemisah langit dengan air di kejauhan.
Pemandangan favorit saya yang kedua adalah pemandangan matahari terbit di antara petak-petak sawah yang luas. Dulu sekali waktu saya masih duduk di bangku SD hingga SMP di sekitar rumah saya ada hamparan petak-petak sawah yang cukup luas. Jadi jika saya bisa bangun cukup pagi, maka saya akan bisa menikmati keluarnya matahari di antara petak-petak sawah itu. Sayangnya ketika saya masuk SMU sedikit demi sedikit lahan persawahan itu dibeli oleh beberapa pengembang properti untuk membangun perumahan. Jadi saya tak bisa lagi menikmati pemandangan itu. Pemandangan matahari terbit di persawahan favorit saya adalah ketika saya berada di Pulau Samosir. Rumah nenek saya ada di sana, letaknya jauh sekali dari jalan utama, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda motor yang jarang sekali ada atau berjalan kaki selama 2 jam! Dan saya lebih sering berjalan kaki ke sana. Dulu saya selalu mengeluh tentang jauhnya jarak ke rumah nenek, karena jalan kaki itu melelahkan sekali. Tapi saya ingat suatu pagi saya berjalan kaki menuju rumah nenek bersama keluarga saya yang lain. Pemandangan di sepanjang perjalanan tersebut adalah beberapa lokasi perkampungan warga, kebun-kebun dan petak-petak sawah yang sangat luas. Matahari terbit mengiringi langkah kami pagi itu, dan saat itu saya melihat matahari terbit di antara hamparan petak-petak sawah. Buat saya, pemandangan itu indah sekali, tak terlupakan.
Kedengarannya
seperti kejadian biasa, tapi buat saya itu hal yang menyenangkan. Saya
berjalan di antara petak-petak sawah itu dengan tetesan embun di ujung
daun tanaman di sekitar saya, menikmati udara sejuk yang perlahan
menghangat dengan kemunculan mentari yang naik perlahan, melihat langit
yang juga perlahan menjadi lebih terang. Ah, segar rasanya!Waktu saya berkerja di Tegal & Semarang, jika saya ingin ke atau dari Jakarta & memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan kereta api, maka saya akan lebih suka memilih jadwal kereta yang cukup pagi. Tujuannya hanya agar menikmati indahnya pemandangan matahari terbit di antara petak-petak sawah yang saya lalui selama perjalanan.
Dan
pemandangan favorit saya yang ketiga adalah melihat seorang ayah
menggandeng putri kecilnya. Entahlah, sejak ayah saya tiada saya selalu
senang melihat pemandangan seperti ini. Dulu waktu ayah saya masih
hidup, saya sangat senang sekali berjalan-jalan bersama ayah saya, dan
dia selalu memegang tangan saya. Waktu itu saya tidak suka jika tangan
saya terus-terusan dipegang ayah, karena saya tidak bisa bebas berjalan
atau berlari ke mana pun saya mau. Kecuali jika saya berada di tempat
baru atau tempat yang sangat ramai, maka saya yang akan merangkul erat
tangan ayah saya. Dan yang dilakukan ayah saya adalah merangkul badan
kecil saya. Belakangan saya baru menyadari, ayah melakukan itu untuk
menjaga putri kecilnya yang suka terlalu lincah bergerak.Jadi, apa pemandangan favorit Anda?
Thursday, March 21, 2013
Everything is Grace Alone
Dear God,
I just wanna thank You for this sickness
For I can learn to be more patient
Maybe I used to move my body too quickly
And I really sure that I'm not a discipline one
So I often do everything in a hurry and fast
But now, to move fast is not a simple thing for me
I should do every simple thing with more patient
I should walk slowly now
Maybe with this You want to teach me to enjoy the time while I walking with see everything around me deeply
I should eat slowly also
Maybe I should learn to more enjoy every food taste in my mouth, so I now the differences of every taste
I should having shower slowly
Maybe You want me to relaxing my body at my shower time, feel the freshness of the water and smell of soap
And many other simple things..
God, I still remember when I felt pneumonia and asthma in my lungs
It hurt me so bad, even for breathing is a hard thing for me
Honestly, deep in my heart I really want to get health
You know, I really want to do so many things
I want to go to many places that I really want to see
But now I should not do long trip if I want to get my healthy back again
At this moment, I ask for nothing from You
Every morning I'm wake up
I'm breathing, I'm healthy, I'm alive
I know it's all because Your love
Thanks God, I can learn
For every move I make, every breath I take is only by Your grace alone
I just wanna thank You for this sickness
For I can learn to be more patient
Maybe I used to move my body too quickly
And I really sure that I'm not a discipline one
So I often do everything in a hurry and fast
But now, to move fast is not a simple thing for me
I should do every simple thing with more patient
I should walk slowly now
Maybe with this You want to teach me to enjoy the time while I walking with see everything around me deeply
I should eat slowly also
Maybe I should learn to more enjoy every food taste in my mouth, so I now the differences of every taste
I should having shower slowly
Maybe You want me to relaxing my body at my shower time, feel the freshness of the water and smell of soap
And many other simple things..
God, I still remember when I felt pneumonia and asthma in my lungs
It hurt me so bad, even for breathing is a hard thing for me
Honestly, deep in my heart I really want to get health
You know, I really want to do so many things
I want to go to many places that I really want to see
But now I should not do long trip if I want to get my healthy back again
At this moment, I ask for nothing from You
Every morning I'm wake up
I'm breathing, I'm healthy, I'm alive
I know it's all because Your love
Thanks God, I can learn
For every move I make, every breath I take is only by Your grace alone
Monday, March 18, 2013
Capek!
Sepertinya sekarang gw sering memulai postingan dengan kalimat: "lama ga
nulis." Yah, emang begitu faktanya, gw emang udah ga seintens dulu
dalam membuat tulisan. Bukan hanya di blog ini, travel-blog gw juga udah
gw anggurin selama lebih dari 3 bulan! Padahal dalam 3 bulan terakhir
gw udah jalan-jalan ke 4 tempat, tapi belum satu pun gw tulis
travel-report-nya.
Alasannya klise nan klasik sekali: sibuk. Ya, biasalah, alasan setiap pegawai kantoran. Sebenernya setelah ngantor gw ngga sibuk, cuma karena udah cape dengan kerjaan, jadi gw lebih memilih untuk tidur setelah kerjaan gw beres, bahkan untuk nonton tv pun gw males, apalagi untuk nulis yg kudu mikir. Buku2 & dvd film2 yg gw beli pun gw anggurin, karena gw males buat duduk untuk membaca atau menonton. Panggilan kasur dan seluruh isinya lebih menggoda buat gw.
Badan gw seperti diikat oleh rasa cape yg seperti ngga ada habisnya. Dan rasa cape itu ga hilang gitu aja dengan semua jam tidur gw, dia mengikuti gw sampe gw bener-bener harus istirahat total berhari-hari. Cape di sini maksud gw adalah cape fisik, karena gw masih ngrasa senang tanpa merasa tertekan dengan semua rutinitas gw. Jadilah gw memaksa badan gw untuk melakukan ini dan itu, hingga akhirnya badan gw ambruk.
Yg terjadi akhirnya adalah: gw pingsan pas lagi di kantor, dan ini pertama kali gw mengalaminya, kata temen2 kantor, waktu itu badan gw benar2 pucat & dingin. Lalu gw dirawat di RS selama 3 hari & 2 malam. Sungguh ini gw ngga suka bgt! Dari dulu gw sangat menghindari rawat inap, karena gw ngga suka dengan RS! Dan bener aja, gw malah ga bisa tidur selama di RS, karena gw ngga suka lingkungannya & ngga nyaman dengan infus di tangan kiri gw.

Well, sebenarnya gw mendapatkan pelayanan & perawatan yg baik di RS itu. Kata orang, seharusnya sih gw betah dirawat di kamar seperti itu. Tapi namanya juga gw ga suka RS & lagi sakit, jadi sebagus apapun kamar di RS gw tetep ngga bisa nikmatin. Jadi, bisa dibilang gw memaksakan diri untuk keluar, padahal gejala sakitnya masih benar2 gw rasakan.
Sekarang sih gw udah ngrasa jauh lebih baik. Cuma, penyakit ini ternyata suka kambuhan. Gw harus benar2 menjaga pola makan & aktivitas gw. Ngga boleh telat makan, ngga boleh ngrasa lapar, ngga boleh stres, ngga boleh kecapean. Klo gw langgar, maka gw akan merasa badan gw seperti berputar, dan klo parah, gw bisa tumbang.
Pusing tujuh keliling, seperti itulah yg gw rasain. Untuk jalan kaki aja gw bisa sempoyongan. Jadi buat gw, pusing itu adalah ketika tekanan darah gw turun ke ambang bawah karena lapar atau cape, dan ketika gw bergerak terlalu cepat. Gw bener2 sedih! Gw adalah orang sanguin yg penuh semangat senang bergerak dengan cepat, berjalan cepat, melakukan banyak dengan cepat pula. Sakit ini seperti mengikat gw dalam gerakan2 lambat.
Dan penyebab semuanya cuma satu hal sederhana: kecapean, gw terlalu memaksa diri gw untuk semuanya. Semangat sih, itu bagus. Tapi terlalu semangat juga ga bagus gini efeknya. Seperti yg gw tulis di atas, gw 4 perjalanan dalam waktu yg berdekatan. Gw emang semangat bgt waktu itu, karena emang gw senang. Cuma ternyata semangat aja ngga cukup klo fisik gw ga cukup kuat untuk melakukannya. Sekarang gw cuma bisa bersabar untuk menunggu izin agar diperbolehkan jalan2 lagi. So, please get well very soon my dearest body!
Alasannya klise nan klasik sekali: sibuk. Ya, biasalah, alasan setiap pegawai kantoran. Sebenernya setelah ngantor gw ngga sibuk, cuma karena udah cape dengan kerjaan, jadi gw lebih memilih untuk tidur setelah kerjaan gw beres, bahkan untuk nonton tv pun gw males, apalagi untuk nulis yg kudu mikir. Buku2 & dvd film2 yg gw beli pun gw anggurin, karena gw males buat duduk untuk membaca atau menonton. Panggilan kasur dan seluruh isinya lebih menggoda buat gw.
Badan gw seperti diikat oleh rasa cape yg seperti ngga ada habisnya. Dan rasa cape itu ga hilang gitu aja dengan semua jam tidur gw, dia mengikuti gw sampe gw bener-bener harus istirahat total berhari-hari. Cape di sini maksud gw adalah cape fisik, karena gw masih ngrasa senang tanpa merasa tertekan dengan semua rutinitas gw. Jadilah gw memaksa badan gw untuk melakukan ini dan itu, hingga akhirnya badan gw ambruk.
Yg terjadi akhirnya adalah: gw pingsan pas lagi di kantor, dan ini pertama kali gw mengalaminya, kata temen2 kantor, waktu itu badan gw benar2 pucat & dingin. Lalu gw dirawat di RS selama 3 hari & 2 malam. Sungguh ini gw ngga suka bgt! Dari dulu gw sangat menghindari rawat inap, karena gw ngga suka dengan RS! Dan bener aja, gw malah ga bisa tidur selama di RS, karena gw ngga suka lingkungannya & ngga nyaman dengan infus di tangan kiri gw.

Well, sebenarnya gw mendapatkan pelayanan & perawatan yg baik di RS itu. Kata orang, seharusnya sih gw betah dirawat di kamar seperti itu. Tapi namanya juga gw ga suka RS & lagi sakit, jadi sebagus apapun kamar di RS gw tetep ngga bisa nikmatin. Jadi, bisa dibilang gw memaksakan diri untuk keluar, padahal gejala sakitnya masih benar2 gw rasakan.
Sekarang sih gw udah ngrasa jauh lebih baik. Cuma, penyakit ini ternyata suka kambuhan. Gw harus benar2 menjaga pola makan & aktivitas gw. Ngga boleh telat makan, ngga boleh ngrasa lapar, ngga boleh stres, ngga boleh kecapean. Klo gw langgar, maka gw akan merasa badan gw seperti berputar, dan klo parah, gw bisa tumbang.
Pusing tujuh keliling, seperti itulah yg gw rasain. Untuk jalan kaki aja gw bisa sempoyongan. Jadi buat gw, pusing itu adalah ketika tekanan darah gw turun ke ambang bawah karena lapar atau cape, dan ketika gw bergerak terlalu cepat. Gw bener2 sedih! Gw adalah orang sanguin yg penuh semangat senang bergerak dengan cepat, berjalan cepat, melakukan banyak dengan cepat pula. Sakit ini seperti mengikat gw dalam gerakan2 lambat.
Dan penyebab semuanya cuma satu hal sederhana: kecapean, gw terlalu memaksa diri gw untuk semuanya. Semangat sih, itu bagus. Tapi terlalu semangat juga ga bagus gini efeknya. Seperti yg gw tulis di atas, gw 4 perjalanan dalam waktu yg berdekatan. Gw emang semangat bgt waktu itu, karena emang gw senang. Cuma ternyata semangat aja ngga cukup klo fisik gw ga cukup kuat untuk melakukannya. Sekarang gw cuma bisa bersabar untuk menunggu izin agar diperbolehkan jalan2 lagi. So, please get well very soon my dearest body!
Subscribe to:
Posts (Atom)

